[ad_1]

Pertanian sejauh ini merupakan satu-satunya kegiatan ekonomi terpenting di Afrika. Sektor ini menyediakan lapangan kerja bagi sekitar dua pertiga populasi pekerja di benua ini dan setiap negara menyumbang rata-rata 30 hingga 60 persen produk domestik bruto dan sekitar 30 persen nilai ekspor. Meskipun demikian, lahan subur dan lahan untuk tanaman permanen hanya menempati sekitar 6 persen dari total luas lahan di Afrika.

Kecuali di negara-negara dengan populasi keturunan Eropa yang cukup besar—seperti Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Kenya—pertanian sebagian besar masih terbatas pada pertanian subsisten dan sangat bergantung pada sistem pertanian yang tidak efisien. perladangan berpindah, dimana lahan bersifat sementara dibudidayakan dengan sederhana mengimplementasikan sampai kesuburannya menurun kemudian ditinggalkan beberapa saat agar tanah dapat beregenerasi. Selain itu, di sebagian besar Afrika, lahan subur umumnya telah diolah dialokasikan melalui sistem komunal yang kompleks masa jabatan dan kepemilikan dibandingkan melalui hak milik yang diperoleh secara individu, dan petani mempunyai hak untuk menggunakan kepemilikan yang relatif kecil dan tersebar. Sistem kepemilikan tanah ini cenderung menjaga intensitas produksi pertanian tetap rendah dan rendah terhambat tingkat di mana modal telah dimobilisasi untuk modernisasi produksi. Sejumlah negara telah melakukan upaya untuk meningkatkan tingkat produktivitas dengan memilih varietas benih dan bahan tanam yang lebih baik, menggunakan traktor dan peralatan mekanis lainnya, atau meningkatkan penggunaan pupuk mineral dan insektisida. Namun upaya-upaya tersebut masih relatif terbatas dan menimbulkan kekhawatiran mengenai peran mereka dalam mempercepat erosi tanah dan penggurunan. Di wilayah produksi tanaman komersial, lahan telah menjadi milik pribadi dan bukan milik masyarakat, dan budidaya dilakukan secara intensif.

Bertahannya sistem pertanian dengan produktivitas yang relatif rendah di sebagian besar benua ini juga disebabkan oleh kurangnya pasokan integrasi di antara produksi tanaman dan peternakan. Secara tradisional, para petani yang menetap seperti suku Hausa di Nigeria dan suku Kikuyu di Kenya hidup terpisah dari tetangga penggembala mereka yang nomaden (masing-masing suku Fulani dan Maasai), yang mengakibatkan sebagian besar wilayah di benua ini para petani tidak memiliki akses terhadap hewan untuk menghasilkan tenaga listrik atau pupuk kandang untuk pupuk. Banyaknya hama serangga seperti lalat tsetse juga menghambat pertanian campuran di banyak daerah.

Namun, kebutuhan untuk meningkatkan produksi pangan secara tajam untuk memenuhi permintaan populasi yang berkembang pesat masih menjadi hal yang terpenting. Penelitian intensif di pusat-pusat seperti Institut Pertanian Tropis Internasional di Ibadan, Nigeria, diarahkan pada pengembangan varietas tanaman berkinerja tinggi dan merancang sistem tanam yang lebih tepat. Salah satu produk dari penelitian tersebut adalah strain yang dikembangkan secara genetik jagung (jagung). Jagung sendiri bukanlah makanan yang seimbang, karena kekurangan beberapa asam amino, namun sebuah terobosan ilmiah pada pertengahan tahun 1960an menghasilkan peningkatan asam amino lisin dan triptofan pada varietas jagung baru tertentu yang disebut buramatau strain lisin tinggi. Varietas ini awalnya menghasilkan hasil yang rendah, lebih rentan terhadap penyakit dan hama, serta memiliki tekstur lunak yang tidak diinginkan. Namun program pemuliaan memperbaiki kekurangan ini, dan strain baru mulai meningkatkan nilai gizi makanan di Afrika (yang sebagian besar terdiri dari olahan jagung).

Tanaman utama

Sereal dan biji-bijian

Afrika menghasilkan semua biji-bijian utama—jagung, gandum, dan beras—dalam urutan kepentingannya. Jagung memiliki distribusi terluas, ditanam di hampir semua zona ekologi. Hasil tertinggi per hektar tercatat di Mesir dan di pulau Réunion dan Mauritius di Samudra Hindia, wilayah di mana produksinya berada di bawah irigasi. Millet dan sorgum juga diproduksi tetapi terutama di wilayah sabana di benua tersebut. Produksi beras dan konsumsi menjadi semakin penting dan terkait erat dengan wilayah urbanisasi yang pesat. Negara penghasil beras terpenting adalah Mesir, Guinea, Senegal, Mali, Sierra Leone, Liberia, Pantai Gading, Nigeria, Tanzania, dan Madagaskar. Produksi gandum pernah dibatasi di Afrika Selatan, negara-negara Afrika Utara, dan zona dataran tinggi di Etiopia dan Kenya, namun varietas baru telah memperluas budidaya (di bawah irigasi) ke negara-negara di kawasan sabana seperti Nigeria.

Kacang-kacangan dan pakan ternak

Tanaman pakan ternak tidak ditanam secara luas kecuali di daerah subtropis di Afrika Utara dan zona dataran tinggi di Afrika Timur dan Selatan, dimana tegakan alfalfa (lucerne) murni ditanam. Berseem (sejenis semanggi yang digunakan untuk mencari makan) juga ditanam di Mesir dan Sudan dengan irigasi. Kacang-kacangan kaya protein diproduksi secara luas, biasanya ditanam bersamaan dengan tanaman lain. Diantaranya kacang beludru, kacang tunggak, kedelai, dan lablab (kacang eceng gondok). Di Afrika Utara buncis dan vetch juga diproduksi. Kacang tanah (groundnuts) ditanam secara luas di Afrika bagian barat, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.

Umbi-umbian dan tanaman umbi-umbian

Budidaya singkong yang kuat telah berkembang pesat, khususnya di Afrika bagian barat dan tengah; hal ini telah menggantikan budidaya ubi di banyak daerah dan tidak lagi dianggap sebagai cadangan kelaparan saja. Kentang dibudidayakan di dataran tinggi di negara-negara seperti Etiopia, Kenya, dan Madagaskar, serta di daerah beriklim Mediterania di Afrika Utara dan Selatan. Ubi jalar mempunyai sebaran yang lebih tropis dan subtropis, sedangkan pisang raja ditanam secara luas di kawasan hutan tropis.

[ad_2]

Afrika – Pertanian, Tanaman, Peternakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *