[ad_1]
Krisis yang semakin parah di Selat Hormuz telah melampaui kenaikan biaya pengangkutan dan asuransi, sehingga secara mendasar mengubah pola pengambilan keputusan para pelaku pasar biji-bijian global. Menurut Koray Tüysüzoğlu, CEO Erser Group, salah satu perusahaan terkemuka di Turki dalam perdagangan biji-bijian, kacang-kacangan, dan minyak sayur, penyebab utamanya bukan lagi kekurangan barang secara fisik, melainkan ketidakpastian seputar biaya dan risiko.
Dari “Beli dan Tahan” hingga Ketangkasan Strategis
Koray Tüysüzoğlu
CEO Grup Erser
Berbicara kepada Majalah Miller, Tüysüzoğlu menyoroti perubahan signifikan dalam refleks komersial. Sebagai pemimpin kelompok dengan beragam keahlian di bidang pertanian, logistik, pengemasan dan industri tepung, ia mencatat bahwa mentalitas tradisional “beli murah dan simpan” digantikan oleh strategi defensif “hindari penempatan yang salah”.
- Pergeseran Volume: Pelaku pasar menjauh dari posisi jangka panjang yang besar.
- Fleksibilitas Operasional: Terdapat peningkatan preferensi terhadap transaksi yang lebih kecil, berjangka pendek, dan sangat fleksibel.
- Efek Spiral: Tüysüzoğlu memperingatkan terhadap kesalahpahaman bahwa impor dari Laut Hitam kebal terhadap krisis. Ia mencatat bahwa ketika sebuah kapal melakukan perubahan rute, hal ini akan menimbulkan efek riak: antrian di pelabuhan menjadi lebih panjang, tarif angkutan melonjak, dan rantai biaya secara diam-diam meluas secara global.
Dampak “Penerimaan Pasar”.
Krisis di Teluk menimbulkan ancaman langsung terhadap produksi pertanian Turki karena ketergantungan Turki pada input penting seperti pupuk nitrogen, bahan tambahan pakan (asam amino), dan bahan bakar. Dalam pandangannya, krisis ini tidak dimulai dari rak, namun dari lapangan: “Biaya input meningkat, hasil panen menurun, dan produksi ternak menjadi lebih mahal. Pada akhirnya, dampak pembangunan di Hormuz akan segera terlihat pada penerimaan supermarket di Istanbul.”
Jika gangguan yang terjadi saat ini terus berlanjut hingga musim panen tahun 2026, Tüysüzoğlu memperkirakan ada tiga titik puncak yang kritis bagi pasar:
- Kerugian Hasil: Terbatasnya akses terhadap pupuk dapat menyebabkan penurunan hasil panen dalam negeri secara signifikan.
- Inflasi Peternakan: Meningkatnya biaya pakan akan memberikan tekanan besar pada harga produk hewani.
- Krisis Likuiditas: Kombinasi kenaikan biaya pengangkutan, bahan bakar, dan produk akan meningkatkan kebutuhan modal kerja, yang berpotensi memicu tekanan likuiditas yang tajam di seluruh sektor.
RISIKO BAGI TÜRKIYE, TAPI JUGA PELUANG
Tüysüzoğlu mengatakan krisis ini menghadirkan risiko dan peluang bagi Türkiye, asalkan negara tersebut menggunakan keunggulan geografisnya dengan bijak. Terletak di persimpangan Laut Hitam, Mediterania, dan Timur Tengah, Türkiye berpotensi memperkuat perannya sebagai pusat perdagangan regional. Namun, dia menekankan bahwa kecepatan dan fleksibilitas sangatlah penting. “Dari peraturan perdagangan transit hingga infrastruktur pelabuhan dan penyimpanan, banyak hal yang perlu ditinjau ulang dengan cepat,” katanya.
[ad_2]
Krisis Hormuz mengubah refleks perdagangan di pasar biji-bijian
